Pages

Monday, 19 December 2011

Saat Kau Tak Ada di Sisi

Aku ingin merasakannya, sebelum jantung ini berhenti berdetak.
Seperti dulu, hanya butuh ia ada, tak lebih.
Yang pernah hilang saat dia memandang orang lain dengan tatapan berbeda, rasanya semuanya telah berakhir.

Thursday, 17 November 2011

Ibu



Ibu…
lalu ia membungkuk
tangan menggenggam sulur-sulur kecil tunas padi
satu persatu dengan tegas ia tanamkan dengan irama kecepatan
mundur teratur bersama usia yang beranjak uzur
berpegang pada tali lurus panjang terjulur
setia menanti hingga tunas menyemai pasti

Ibu…
tikus-tikus itu datang mengganggu
ketika ruas mulai kokoh berdiri
engkau memberikan penerangan dengan mencabut dan membuang rumput liar
agar sang tikus takut dengan keadaan yang lebih terang
mereka hanya merusak saja
bukan semata-mata hanya karena lapar mendera

Ibu…
ku berbalik padamu
karena burung lagi-lagi menggangu ketentramanku
benih yang terkumpul dengan susah payah
dengan ganas pula mereka mematuk dan mengunyah

Ibu…
aku terseok mengayuh sepeda kehidupan
tak kan mampu bertahan
tanpa petuahmu yang setia menemani
agar aku dapat seperti padimu yang merunduk jadi
tidak menengadah kehilangan arah

Ibu…
hari ini aku mencium kaki
berharap surga indah tiada terperi
dangan ridomu melepas aku pergi
bersama seorang yang sangat aku cintai
ku persembahkan untukmu untaian indah bunga melati
yang menjuntai dari sanggul bidadari sehari




Tuesday, 15 November 2011

Dleming

 
Kau gantung aku di julang harap tanpa tali pengaman, di bawah rintik hujan yang belakangan kurasa membosankan. Duhai, mendung menutup sang guru setia, untuk menjajakan hangat pada sesiapa dengan kerlingnya.

Malam telah menjemput senja berselimut 'rana', tanpa penebar siluet jingga. 
 
Samar ku dengar cengkrama angin bersama telisiknya pada dedaunan. "Berhentilah Sayang, masuklah ke bilik ketentraman dan tinggalkan rasa jemu itu. Tahukah, 'cinta' akan hadir untukmu tanpa kau tunggu. Kepul dan harum kopi telah menunggu kita untuk bersama-sama memanjat syukur akan kasih-Nya yang tak terbatas."
 
 
 

Keajaiban Cinta

 
Ia telah kena tulah. Betapa dia tak tahu kalau cinta tak pernah memandang bulu.

Cibir tertarik berbentuk sungging di bibir, ketika aku ceritakan sebuah hikayat cinta seorang musafir.

Maka ancamku, jangan pernah memaksakan diri membenci atau memahami cinta, tapi lihatlah, ia digdaya dengan keajaiban yang merubah setiap hidup manusia.
 
 
 
 

About Love


Celoteh Hati

Lalu ia menunjuk sebongkah batu yang tua itu
Kebersamaan dan cengkrama yang tak lagi ada
Kala mereka membangun warisan cerita

Topang menyunggi dagu dan wajah durja
Wahai, ayat-ayat itu kini tak lagi bermakna cinta
Ia lontarkan ke langit
Aku hujamkan ke keputihan awan rindu

Yang kemudian menghitam
Bersama air laut rinduku menguap
Harapku ia jatuh ketika angin menelisik
Kepada bumi dan daunku yang kering

Oh, aduhai, ia berarak menjauh dan jatuh pada belahan bumi lain.


*Fanling 2011

 
 
 
 

Sunday, 30 October 2011

Aku bukan kidung ibu

Aku bukan kidung ibu


Yang mengantarkan kepada kelelapan
Yang menyayat menggambarkan pedihnya perjuangan
Mengukirkan cinta dengan seribu makna




Aku bukan kidung ibu


Di dalamnya mengalir keridhaan Tuhan
Bait-baitnya menyihir jiwa-jiwa


Ono kidung
Rumeksoing wengi....


Aku bukan kidung ibu


Aku hanya pengembara yang singgah
Menyatu dengan syahdunya kidung yang dunia perdengarkan
Janganlah kau mendengarnya
Walau hanya sekali


Aku bukan kidung ibu


Kumohon jangan pernah terlena olehnya lagi

Dia



Dia
Menyelusup
Menggangguku yang masih khusuk
Bergumul dengan kebiasaan buruk


Dia
Menembus celah
Mengalahan kaca
Memantulkan nur ke setiap sudut-sudut dunia
Menghangatkan jiwa yang dingin


Dia
Memaksa
Menodong 


Dia
Menyulut amarah kelelawar
Yang sedang asik mencuri jambu tetangga


Dia
Entah siapa
Belum tertemukan sosoknya



Allah Selalu Memberikan Kemudahan Kepada Kita




Allah Selalu Memberikan Kemudahan Kepada Kita

Ketika kita bahagia, Ia memudahkan kita untuk tertawa sepuasnya.

Ketika kita sedih, Ia memudahkan kita untuk menangis.

Ketika kita sakit, Ia memudahkan kita untuk mengaduh.

Ketika kita kecewa, Ia berikan kita kesempatan untuk memilih.

Ketika kita putus asa, Ia ulurkan tangan untuk kembali pada-Nya.

Dan pertanyaannya, apakah kita sudah bersyukur atas semua nikmat yang Ia berikan, atau mengabaikannya hingga pada suatu hari nanti, Ia akan bukakan jalan untuk hidup di alam lain, yaitu kematian?







Seraut Wajah





. KOSONG








Untukmu


Untukmu

Kan ku persembahkan keindahan sekuntum mawar yang tak mampu tertangkap oleh mata
Dengannya duri-duri perjuangan
Menjaga agar hati tetap bersih
Terinjak oleh dusta yang menggores hingga berdarah
Yang terserak layu sebelum terpetik
Tidak-tidak
Itu tidak kelihatan
Hanya samar
Dan selamanya akan samar….



Aku Adalah Api



aku adalah api
api yang besar berkobar
karena itu jangan mendekat
kalau tak ingin terbakar
kecuali engkau lautan



Aku Adalah Bintang



Aku adalah bintang
Yang berkelip memamerkan keindahan

Aku adalah bintang
Di antara bulan dan mentari-Mu yang benderang

Aku adalah bintang
Karena mentari aku bersinar
Sinar yang dipermainkan mendung
Kadang tebal
Kadang samar
Kadang tidak ada sama sekali

Aku adalah bintang
Yang bersinar hanya untuk-Mu
Dengan menebarkan senyuman pada bumi




Saturday, 29 October 2011

IBU



Ibu adalah dahan tempatku bergelayut
Dan cintaku tak lekang 

Seorang ibu akan tahu jiwa-jiwa cinta anaknya yang bergelantungan di langit-langit kamar tempatnya menghempas badan untuk melepas lelah, saat mereka rindu dekap dan timang.

Kata-kata pelipur lara paling indah di saat aku sedih adalah kata ‘ibu’. Bersama desahannya hatiku tersiramkan kesejukan. Seperti mentari yang menjadi ibu bagi bunga dan segala tumbuhan di atas bumi dengan sinarnya.

Akh ibu, cintamu adalah segalanya bagiku. Kata dan bait diksiku takkan mampu menjabar kasih sedalam samudra hatimu.
 
 

Hampa

 
Jangan engkau cemburu ketika aku lebih akrab dengan pohon waru, jangan engkau curiga ketika aku lebih hapal lekuk mahkota bunganya.

 
Lihatlah kau pada dirimu, bercerminlah kau pada keretakannya, bahwa aku telah hapal senandung yang kau lantunkan ketika malam tiba.

 
Tentang kerinduan entah pada siapa, tentang kehampaan ruang tanpa sekat itu. Seharusnya kau merasa lapang karenanya.
 
 

Tuesday, 22 March 2011

Dalam Kubangan Rindu Akibat Kehilangan Panjang


Lebirin cinta itu mulai runtuh
Menerpa hati dan pikiran hingga lebur berkeping
Bersama dengan kepergian untuk selamanya

Meski cinta adalah sebuah kerelaan melepas sang kekasih pergi, meraih bahagia bersama pilihannya

Meski cinta adalah kepedulian

Meski cinta adalah pengorbanan tanpa pamrih

Tetapi cinta adalah racun mematikan dalam darah seorang gadis dari penghianatan pacar.

Lalu Cinta... aku biarkan dan aku lepaskan Engkau, untuk tentukan pilihan di manapun kau hinggap. Sadar aku hampa tanpa kehadiranmu dalam hidup. Tetapi biarkan aku sendiri untuk saat ini, Cinta.

Terbanglah.... Aku menunggumu hinggap di lain kesempatan....

Biarkan aku sendiri dalam kubangan rindu akibat kehilangan panjang



Sunday, 20 March 2011

Good Bye My Friend




Aku mendengar berita menyedihkan hari ini. Seorang kawan jauh meninggal. Dia menyerah dengan kanker yang menggerogoti otaknya selama setahun ini. Aku tak mampu untuk membendung kesedihan yang aku rasakan. Meskipun karena sedih itu aku tak mampu mengeluarkan meski hanya satu titik air mata. Seandainya aku mampu mengeluarkan barang setitik saja, mungkin beban kesedihan yang aku tanggung akan berkurang walau sedikit.

Dari pagi aku dan sahabat dekat almarhum fakum dari kegiatan rutin untuk merenung. Bertanya kepada Tuhan mengapa selalu orang baik yang diambil terlebih dulu oleh Allah. Almarhum yang begitu tulus, setia, jujur selama hidupnya. Meski sakit akupun tak mampu untuk menggugat Tuhan. Karena Tuhan selalu memiliki rahasia di balik semua musibah yang ia timpakan pada umatnya.

"Hai kau di 'sana' semoga Allah memberimu tempat yang indah. Seperti janji Tuhan pada umat yang selalu taat sepertimu."

Aku dan sahabatmu yang lain sangat menyayangimu. Namun kamipun tak berdaya dengan apa yang Tuhan inginkan darimu. Kami akan selalu mengingat kebaikan-kebaikan yang selama ini kau lakukan pada kami.  Kami yang ditinggal akan membingkai kenangan indah bersamamu di lubuk hati kami.


I Love U....


For my belover brother in God paradise.....






Saturday, 19 March 2011

Minggu Pagi

Apa salah kalau aku ingin berlibur di hari libur? Tapi yang ada banyak sekali tugas menghadang di depan mata. Aku ingin memejamkan mata selepas shalat duha saja kok gak bisa.


Tut tut tut, HP ku berdering berkali-kali. Mengganggu sekali rasanya. Mari bermain dengan kata-kata dan teruskan jangan hiraukan mereka.


Aku menutup HP dan memastikan tak akan bisa berbunyi lagi hingga sore datang menyapa. Sehingga aku dapat melakukan apapun yang aku mau....


Lihat


Berkilau embun pagi


Meskipun sedikit mendung nakal menghalangi cahaya mentari...


Baru saja seorang teman dekat sebelum aku mematikan HP, dia mengirim sms dan mengajakku untuk pergi keluar. "Tak usah kau hiraukan mereka, ayo kita keluar berdua saja," ucapnya padaku. Tapi rasa bersalah karena akan mengabaikan pekerjaan dengan pergi jalan-jalan menghantui perasaanku.


Aku tak mau bermain kata lagi. Aku akan tunaikan tugas itu dulu...
Ini saja yang ingin aku tulis hari ini....

Wednesday, 16 March 2011

Laut Biru



Pagi menjelang tanpa sinar
Mentari yang membuat hati berbinar
Setia seperti seorang kekasih
Seketika gelap bagai malam

Laut biru tak lagi mau tahu
Kesetiaan itu pudar
Dihempas hujan dan petir menyambar
Sang kekasih kini redup
Tertutup awan hitam dan kabut

Kapan gelap itu berlalu
Hingga sang kekasih terbit di ufuk langit
Agar laut menjadi biru
Terpancar keindahan kala senja berkibar

"Biar-biarkan mereka bercumbu disaksikan langit yang biru!"

"Tidak... Itu tidak disengaja!"

Riak gelombang seolah bersahutan namun sejatinya tak menghiraukan
Meski tahu itu adalah borok yang sangat berbau
Dimana selalu tertaut kemanapun menjadi buntut
Dan selalu menuntut meski telah lama terlarut

Cinta suci disaksikan benda tak abadi
Hilang bagai segelintir mimpi
Sang kekasih tiada peduli
Diam itu adalah penyesalan
Namun waktu tak mampu mengembalikan


Wednesday, 9 March 2011

Dalam gemerlap cinta tanpa makna

Kau bagaikan ramuan pencegah kematian
Dari suri panjang kehidupan
Karena kuncup berkembang dari pengap
Mengintip mentari dan mencicip embun pagi
Akan kukatakan pada dunia aku telah datang
Membantu kau menyibak
Segala resah menyeruak
Dalam gemerlap cinta tanpa makna

Seraut Wajah

. KOSONG

Wednesday, 9 February 2011

Menggapai Pelangi



"Ibu, lihat mereka digandeng orang tua mereka. Ini kan hari lebaran, Ibu. Mengapa Ibu tak pulang dan menemaniku pergi ke rumah eyang." Dia berbisik.


Seorang anak kecil duduk termenung di serambi rumah tua. Tatap matanya sayu memandang teman-teman sebayanya berjalan berbondong digandeng orang tua mereka. 

"Nduk, ayo masuk. Ayah membuat kue dan rendang." Seorang lelaki berumur 35 tahun dengan badan tinggi tegap menuntun anaknya masuk ke dalam rumah.

"Yah, kapan ibu pulang?"

Laki-laki itu hanya tersenyum dan menyendokkan nasi untuk putrinya itu. Dia berharap, dengan daging rendang yang nikmat itu, putrinya dapat melupakan kenikmatan bercengkrama dengan ibunya.


Anak kecil itu masih bergumul dengan harapan yang sama setiap tahunnya, yaitu merayakan lebaran ditemani sang ibu.....



TO BE CONTINUED....