Ibu…
lalu ia membungkuk
tangan menggenggam sulur-sulur kecil tunas padi
satu persatu dengan tegas ia tanamkan dengan irama kecepatan
mundur teratur bersama usia yang beranjak uzur
berpegang pada tali lurus panjang terjulur
setia menanti hingga tunas menyemai pasti
Ibu…
tikus-tikus itu datang mengganggu
ketika ruas mulai kokoh berdiri
engkau memberikan penerangan dengan mencabut dan membuang rumput liar
agar sang tikus takut dengan keadaan yang lebih terang
mereka hanya merusak saja
bukan semata-mata hanya karena lapar mendera
Ibu…
ku berbalik padamu
karena burung lagi-lagi menggangu ketentramanku
benih yang terkumpul dengan susah payah
dengan ganas pula mereka mematuk dan mengunyah
Ibu…
aku terseok mengayuh sepeda kehidupan
tak kan mampu bertahan
tanpa petuahmu yang setia menemani
agar aku dapat seperti padimu yang merunduk jadi
tidak menengadah kehilangan arah
Ibu…
hari ini aku mencium kaki
berharap surga indah tiada terperi
dangan ridomu melepas aku pergi
bersama seorang yang sangat aku cintai
ku persembahkan untukmu untaian indah bunga melati
yang menjuntai dari sanggul bidadari sehari
No comments:
Post a Comment